Kamis, 05 Juni 2014

makalah longsor



PENDAHULUAN
 

A.  LATAR BELAKANG
Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng dunia yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng Australia yang bergerak saling menumbuk. Akibat tumbukan antara lempeng itu maka terbentuk daerah penunjaman memanjang di sebelah Barat Pulau Sumatera, sebelah Selatan Pulau Jawa hingga ke Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara, sebelah Utara Kepulauan Maluku, dan sebelah Utara Papua. Konsekuensi lain dari tumbukan itu maka terbentuk palung samudera, lipatan, punggungan dan patahan di busur kepulauan, sebaran gunung api, dan sebaran sumber gempa bumi. Gunung api yang ada di Indonesia berjumlah 129. Angka itu merupakan 13% dari jumlah gunung api aktif dunia. Dengan demikian Indonesia rawan terhadap bencana letusan gunung api dan gempa bumi. Di beberapa pantai, dengan bentuk pantai sedang hingga curam, jika terjadi gempa bumi dengan sumber berada di dasar laut atau samudera dapat menimbulkan gelombang Tsunami.

Jenis tanah pelapukan yang sering dijumpai di Indonesia adalah hasil letusan gunung api. Tanah ini memiliki komposisi sebagian besar lempung dengan sedikit pasir dan bersifat subur. Tanah pelapukan yang berada di atas batuan kedap air pada perbukitan/punggungan dengan kemiringan sedang hingga terjal berpotensi mengakibatkan tanah longsor pada musim hujan dengan curah hujan berkuantitas tinggi. Jika perbukitan tersebut tidak ada tanaman keras berakar kuat dan dalam, maka kawasan tersebut rawan bencana tanah longsor.

B.  MAKSUD DAN TUJUAN
Tujuan penulis membuat makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui gejala umum terjadinya tanah lonsor dan penyebab terjadinya bencana alam tanah lonsor dan pencegahan terjadinya bencana alam tanah longsor.
2.      Untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang tanah longsor.

C.  RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang permasalahan di atas maka kami merumuskan masalah yang perlu ditanggulangi sebagai berikut :
1)     Faktor apa saja yang menyebabkan bencana tanah longsor ?
2)     Bagaimana upaya yang bisa dilakukan untuk menghindari terjadinya bencana tanah longsor ?

D.  MANFAAT
1. Mengetahui penyebab terjadinya tanah longsor
2. Menentukan kontruksi di area karena perbedaaan kondisi tanah




PEMBAHASAN


A.  PENGERTIAN TANAH LONGSOR
     Tanah longsor atau dalam bahasa Inggris disebut Landslide, adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. Proses terjadinya tanah longsor dapat diterangkan sebagai berikut: air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng.
B.  DASAR TEORI
1. PENYEBAB TERJADINYA LONGSOR
• Hujan
Ancaman tanah longsor biasanya dimulai pada bulan November karena meningkatnya intensitas curah hujan. Musim kering yang panjang akan menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar. Hal itu mengakibatkan munculnya pori-pori atau rongga tanah hingga terjadi retakan dan merekahnya tanah permukaan. Ketika hujan, air akan menyusup ke bagian yang retak sehingga tanah dengan cepat mengembang kembali. Pada awal musim hujan, intensitas hujan yang tinggi biasanya sering terjadi, sehingga kandungan air pada tanah menjadi jenuh dalam waktu singkat. Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan longsor, karena melalui tanah yang merekah air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng, sehingga menimbulkan gerakan lateral. Bila ada pepohonan di permukaannya, tanah longsor dapat dicegah karena air akan diserap oleh tumbuhan. Akar tumbuhan juga akan berfungsi mengikat tanah.
• Lereng terjal
Lereng atau tebing yang terjal akan memperbesar gaya pendorong. Lereng yang terjal terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air laut, dan angin. Kebanyakan sudut lereng yang menyebabkan longsor.
• Tanah yang kurang padat dan tebal
Jenis tanah yang kurang padat adalah tanah lempung atau tanah liat dengan ketebalan lebih dari 2,5 m dan sudut lereng lebih dari 220°. Tanah jenis ini memiliki potensi untuk terjadinya tanah longsor terutama bila terjadi hujan. Selain itu tanah ini sangat rentan terhadap pergerakan tanah karena menjadi lembek terkena air dan pecah ketika hawa terlalu panas.
• Batuan yang kurang kuat
Batuan endapan gunung api dan batuan sedimen berukuran pasir dan campuran antara kerikil, pasir, dan lempung umumnya kurang kuat. Batuan tersebut akan mudah menjadi tanah bila mengalami proses pelapukan dan umumnya rentan terhadap tanah longsor bila terdapat pada lereng yang terjal.
• Jenis tata lahan
Tanah longsor banyak terjadi di daerah tata lahan persawahan, perladangan, dan adanya genangan air di lereng yang terjal. Pada lahan persawahan akarnya kurang kuat untuk mengikat butir tanah dan membuat tanah menjadi lembek dan jenuh dengan air sehingga mudah terjadi longsor. Sedangkan untuk daerah perladangan penyebabnya adalah karena akar pohonnya tidak dapat menembus bidang longsoran yang dalam dan umumnya terjadi di daerah longsoran lama.
• Getaran
Getaran yang terjadi biasanya diakibatkan oleh gempabumi, ledakan, getaran mesin, dan getaran lalulintas kendaraan. Akibat yang ditimbulkannya adalah tanah, badan jalan, lantai, dan dinding rumah menjadi retak.
• Susut muka air danau atau bendungan
Akibat susutnya muka air yang cepat di danau maka gaya penahan lereng menjadi hilang, dengan sudut kemiringan waduk 220°  mudah terjadi longsoran dan penurunan tanah yang biasanya diikuti oleh retakan.
• Adanya beban tambahan
Adanya beban tambahan seperti beban bangunan pada lereng, dan kendaraan akan memperbesar gaya pendorong terjadinya longsor, terutama di sekitar tikungan jalan pada daerah lembah. Akibatnya adalah sering terjadinya penurunan tanah dan retakan yang arahnya ke arah lembah.
• Pengikisan/erosi
Pengikisan banyak dilakukan oleh air sungai ke arah tebing. Selain itu akibat penggundulan hutan di sekitar tikungan sungai, tebing akan menjadi terjal.
• Adanya material timbunan pada tebing
Untuk mengembangkan dan memperluas lahan pemukiman umumnya dilakukan pemotongan tebing
• Bekas longsoran lama
Longsoran lama umumnya terjadi selama dan setelah terjadi pengendapan material gunung api pada lereng yang relatif terjal atau pada saat atau sesudah terjadi patahan kulit bumi.
• Adanya bidang diskontinuitas (bidang tidak sinambung)
Bidang-bidang tersebut merupakan bidang lemah dan dapat berfungsi sebagai bidang luncuran tanah longsor.
• Penggundulan hutan
Tanah longsor umumnya banyak terjadi di daerah yang relatif gundul dimana pengikatan air tanah sangat kurang.
• Daerah pembuangan sampah
Penggunaan lapisan tanah yang rendah untuk pembuangan sampah dalam jumlah banyak dapat mengakibatkan tanah longsor apalagi ditambah dengan guyuran hujan, seperti yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Leuwigajah di Cimahi. Bencana ini menyebabkan sekitar 120 orang lebih meninggal.
2. JENIS TANAH LONGSOR
Ada 6 jenis tanah longsor, yakni: longsoran translasi, longsoran rotasi, pergerakan blok,runtuhan batu, rayapan tanah, dan aliran bahan rombakan. Jenis longsoran translasi dan rotasipaling banyak terjadi di Indonesia. Sedangkan longsoran yang paling banyak memakan korban jiwa manusia adalah aliran bahan rombakan.
2.1. Longsoran Translasi
Longsoran translasi adalah ber-geraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.





Gambar .1.  Gambar Longsoran Translasi
Sumber : http://mukegile08.wordpress.com/2011/06/15/tanah-longsor-definisi-jenis-dan-gejalanya/slide2-5/
 


2.2. Longsoran Rotasi
Longsoran rotasi adalah bergerak-nya massa tanah dan batuan  pada bidang gelincir berbentuk cekung.




Gambar .2.  Gambar Longsoran Rotasi
Sumber : http://mukegile08.wordpress.com/2011/06/15/tanah-longsor-definisi-jenis-dan-gejalanya/slide2-5/
 


2.3. Pergerakan Blok
Pergerakan blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang gelincir berbentuk rata. Longsoran ini disebut juga longsoran translasi blok batu.


Gambar .3.  Gambar pergerakan Blok
Sumber : http://mukegile08.wordpress.com/2011/06/15/tanah-longsor-definisi-jenis-dan-gejalanya/slide2-5/
 



2.4. Runtuhan Batu
Runtuhan batu terjadi ketika sejum-lah besar batuan atau material lain bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas.Umumnya terjadi pada lereng yang terjal hingga meng-gantung terutama di daerah pantai. Batu-batu besar yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan yang parah.




Gambar .4.  Gambar pergerakan Blok
Sumber : http://mukegile08.wordpress.com/2011/06/15/tanah-longsor-definisi-jenis-dan-gejalanya/slide2-5/
 


2.5. Rayapan Tanah
Rayapan Tanah adalah  jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis tanahnya berupa butiran kasar dan halus. Jenistanah longsor ini hampir tidak dapat dikenali. Setelah waktu yang cukup lama longsor jenis rayapan ini bisa menyebabkan tiang-tiang telepon, pohon, atau rumah miring ke bawah.



Gambar .5.  Gambar Rayapan tanah
Sumber : http://mukegile08.wordpress.com/2011/06/15/tanah-longsor-definisi-jenis-dan-gejalanya/slide2-5/
 


2.6. Aliran Bahan Rombakan
Jenis tanah longsor ini terjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh air. Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng, volume dan tekanan air, dan jenis materialnya. Gerakannya terjadi di sepanjang lembah dan mampu mencapai ratusan meter jauhnya. Di beberapa tempat bisa sampai ribuan meter seperti di daerah aliran  sungai disekitar gunung api. Aliran tanah ini dapat menelan korban cukup banyak.



Gambar .6.  Gambar Aliran bahan Rombakan
Sumber : http://mukegile08.wordpress.com/2011/06/15/tanah-longsor-definisi-jenis-dan-gejalanya/slide2-5/
 


3. GEJALA UMUM TANAH LONGSOR
• Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing.
• Biasanya terjadi setelah hujan.
• Munculnya mata air baru secara tiba-tiba.
• Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan.
4. DAMPAK BENCANA LONGSOR BAGI KEHIDUPAN DAN LINGKUNGAN
            Banyak dampak yang di timbulkan akibat terjadinya tanah longsor baik dampak terhadap kehidupan manusia,Hewan dan tumbuhan maupun dampaknya terhadapa keseimbangan lingkungan.
a. Dampak terhadap kehidupan
            Terjadinya bencana tanah longsor memiliki dampak yang sangat besar terhadap kehidupan, khususnya manusia.bila tanah longsor itu terjadi pada wilayah yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi,maka korban jiwa yang di timbulkan akan sangat besar,tertutama bencana tanah longsor yang terjadi secara tiba-tiba tanpa di awali tanda-tanda akan terjadinya tanah longsor.
            Adapun dampak yang di timbulkan dengan terjadinya tanah longsor terhadap kehidupan adalah sebagai berikut :
1.      Bencana longsor banyak menimbulkan korban jiwa.
2.      Terjadinya kerusakan Infrastruktur public seperti jalan,jembatan dan sebagainya.
3.      Kerusakan bangunan-bangunan seperti gedung perkantoran dan perumahan penduduk serta sarana peribadatan.
4.      Menghambat proses aktivitas manusia dan merugikan baik masyarakat yang terdapat disekitar bencana maupun pemerintah.
b. Dampak terhadap Lingkungan
            Adapun dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan akibat terjadinya tanah longsor adalah sebagai berikut :
1.      Terjadinya kerusakan Lahan
2.      Hilangnya Vegetasi penutup lahan
3.      Terganggunya keseimbangan ekosistem
4.      Lahan menjadi kritis sehingga cadangan air bawah tanah menipis.
5.      Terjadinya tanah longsor dapat penutup lahan yang lain seperti sawah,kebun dan lahan produktif lainnya.








C.  FENOMENA DI BALIKPAPAN
            Secara morfologis Kota Balikpapan terdiri dari kawasan perbukitan yang bergelombang ±85% dengan jenis tanah podsolik merah kuning. Sifat jenis tanah ini berlapisan topsoil tipis, struktur tanahnya mudah tererosi.
Sedangkan ±15% merupakan daerah dataran yang terletak di sepanjang pantai timur dan selatan wilayah Kota Balikpapan
Dari sisi topografis sebagian besar wilayah Kota Balikpapan merupakan kawasan perbukitan yang mempunyai kelerengan antara 15-40%, seluas 21.305,57 Ha atau 42,33% dari luas wilayah keseluruhan.
berikut ini kami lampirkan foto longsor yang terjadi di kota Balikpapan :
Gambar .7. Longsoran yang terjadi di Rt. 33 Prapatan Dalam tanggal 28 mei 2014
Sumber : http://www.balikpapanpos.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=126558
Gambar .8. Longsoran yang terjadi di Gunung pasir tanggal 01 September 2007
Sumber : http://kumpulanku.files.wordpress.com/2007/09/dsc00001.jpg
 








D.  SOLUSI DAN PEMECAHAH
ada beberapa upaya untuk melindungi permukaan tanah dari erosi air dan angin. Upaya tersebut bertujuan  untuk menjaga agar tanah tidak terdispersi dan mengatur kekuatan gerak dan jumlah aliran permukaan agar tidak terjadi pengangkutan tanah.
            Berdasarkan upaya konservasi tersebut, ada tiga cara pendekatan dalam konservasi tanah yaitu:
  1.  Menutup tanah dengan tumbuhan dan tanaman atau sisa-sisa tumbuhan agar terlindungi dari daya perusak butir-butir hujan yang jatuh.
  2. Memperbaiki dan menjaga keadaan tanah agar resisten terhadap daya penghancuran agregat oleh tumbukan butir-butir hujan dan pengangkutan oleh aliran permukaan dan lebih besar dayanya untuk menyerap air di permukaan tanah.
  3. Mengatur aliran permukaan agar mengalir dengan kecepatan yang tidak merusak dan memperbesar jumlah air yang terinfiltrasi ke dalam tanah.
Dalam upaya dalam mencegah dan memperbaiki kerusakan lahan dari longsor, terdapat beberapa metoda yang dikenal dengan metoda konservasi tanah dan air yang digolongkan dalam tiga golongan utama yaitu;


1.  Metoda Vegetatif
Metoda vegetatif adalah penggunaan tanaman atau bagian-bagian tanaman atau sisa-sisanya untuk mengurangi daya tumbuk butir hujan yang jatuh, mengurangi jumlah dan kecepatan aliran permukaan yang pada akhirnya mengurangi erosi tanah.
Metoda vegetatif dalam konservasi tanah meliputi:
a.     Penanaman dalam strip
b.    Pengunaan sisa tanaman/tumbuhan
c.    Geotekstil
d.    Strip tumbuhan penyangga
e.    Tanaman penutup tanah
f.     Pergilitan tanaman
g.    Agroforestry
2.  Metoda Mekanik
Metoda mekanik adalah semua perlakuan fisik mekanis yang diberikan terhadap tanah dan pembuatan bangunan untuk mengurangi aliran permukaan dan erosi dan meningkatkan kemampuan penggunaan tanah. Fungsi metoda mekanik ini yaitu memperlambat aliran permukaan, menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak merusak, memperbaiki atau memperbesar infiltrasi air kedalam tanah dan memperbaiki aerasi tanah dan penyediaan air tanaman.
Metoda mekanik terdiri dari:
a.     Pengolahan tanah (tillage)
b.    Pengolahan tanah menurut kontur
c.    Guludan dan guludan bersaluran menurut kontur
d.    Parit pengelak
e.    Teras
f.     Dam penghambat
g.    Perbaikan drainase
h.    Irigasi


3.  Metoda Kimia
Metoda kimia dengan menggunakan preparate kimia baik berupa senyawa sintetik maupun berupa bahan alami yang telah diolah dalam jumlah yang relatif sedikit untuk meningkatkan stabilitas agregat tanah dan mencegah erosi.
Beberapa preparate kimia yang dikembangkan sebagai berikut (de Boot, Gabriels dan Van develde, 1973);
a.    Polyanion
b.    Polycation
c.    Dipole Polymer
d.    Emulsi bitume
PENCEGAHAN TERJADINYA BENCANA TANAH LONGSOR
·         Jangan membuat sawah dan kolam  pada lereng bagian atas di dekat pemukiman
·         Buatlah terasering (sengkedan) pada lereng yang terjal bila membangun permukiman.
·         Segera menutup retakan tanah dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam tanah melalui retakan.
·         Jangan melakukan penggalian di bawah lereng terjal.
·         Jangan menebang pohon di lereng.
·         Jangan membangun rumah di bawah tebing.
·         Jangan mendirikan permukiman di tepi lereng yang terjal
·         Pembangunan rumah yang benar di lereng bukit pondasinya agar mencapai batuan dasar.
·         Jangan mendirikan bangunan di bawah tebing yang terjal
·         Pembangunan rumah yang salah di lereng bukit
·         Jangan memotong tebing jalan menjadi tegak
·         Jangan mendirikan rumah di tepi sungai yang rawan erosi 



PEMECAHAN MASALAH APABILA SUDAH TERJADI BENCANA
1.     Tanggap Darurat
Yang harus dilakukan dalam tahap tanggap darurat adalah penyelamatan dan pertolongan korban secepatnya supaya korban tidak bertambah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:
* Kondisi medan
* Kondisi bencana
* Peralatan
* Informasi bencana
2.     Rehabilitasi
Upaya pemulihan korban dan prasarananya, meliputi kondisi sosial, ekonomi, dan sarana transportasi. Selain itu dikaji juga perkembangan tanah longsor dan teknik pengendaliannya supaya tanah longsor tidak berkembang dan penentuan relokasi korban tanah longsor bila tanah longsor sulit dikendalikan.
3.     Rekonstruksi
Penguatan bangunan-bangunan infrastruktur di daerah rawan longsor tidak menjadi pertimbangan utama untuk mitigasi kerusakan yang disebabkan oleh tanah longsor, karena kerentanan untuk bangunan-bangunan yang dibangun pada jalur tanah longsor hampir 100%.

Gambar 9. Rekonstruksi Longsor

Ada beberapa tindakan perlindungan dan perbaikan yang bisa ditambah untuk tempat-tempat hunian, antara lain:
* Perbaikan drainase tanah (menambah materi-materi yang bisa menyerap).
* Modifikasi lereng (pengurangan sudut lereng sebelum pem-bangunan).
* Vegetasi kembali lereng-lereng.
* Beton-beton yang menahan tembok mungkin bisa menstabilkan lokasi hunian







PENUTUP


A.                KESIMPULAN
Dari makalah yang kami buat yang berjudul “Longsor” dapat menarik kesimpulan, diantaranya: Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng.
      Faktor penyebab terjadinya gerakan pada lereng ( tanah longsor) juga tergantung pada kondisi batuan dan tanah penyusun lereng, struktur geologi, curah hujan, vegetasi penutup dan penggunaan lahan pada lereng tersebut, namun secara garis besar dapat dibedakan sebagai faktor alami dan manusia.
Terjadinya bencana alam tanah longsor ini dapat diminimalkan dengan memberdayakan masyarakat untuk mengenali tipologi lereng yang rawan longsor, gejala awal longsor, serta upaya antisipasi dini yang harus dilakukan, sehingga pengembangan dan penyempurnaan manajemen mitigasi gerakan tanah baik dalam skala nasional, regional maupun lokal secara berkelanjutan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan menggalang kebersamaan segenap lapisan masyarakat.
.








B.                 SARAN
ada beberapa tindakan perlindungan dan perbaikan yang bisa ditambah untuk tempat-tempat hunian, antara lain:
 Perbaikan drainase tanah (menambah materi-materi yang bisa menyerap).
 Modifikasi lereng (pengurangan sudut lereng sebelum pembangunan).
 Vegetasi kembali lereng-lereng.
 Beton-beton yang menahan tembok mungkin bisa menstabilkan lokasi hunian.
Selain itu ada hal-hal yang harus diketahui untuk menghindari bencana tanah longsor adalah :
       Jangan mencetak sawah dan membuat kolam pada lereng bagian atas di dekat pemukiman
       Buatlah terasering (sengkedan) [ada lereng yang terjal bila membangun permukiman
        Segera menutup retakan tanah dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam tanah melalui retakan.
 Jangan melakukan penggalian di bawah lereng terjal
 Dan sebagainya Diharapkan untuk meningkatkan kualitas mengajar dan membuat suatu materi yang disampaikan agar lebih menarik.
Sekian dan Terima kasih J











DAFTAR PUSTAKA


Bachri, Moch. 2006. Geologi Lingkungan. Malang : CV. Aksara.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. 2005. Pengenalan Gerakan Tanah. Jakarta : Mancamedia.
http://ranupatjeh7.blogspot.com/2013/03/makalah-tanah-longsor.html
http://gempol-ngompol.blogspot.com/2012/05/pengertian-jenis-dan-pencegahan-tanah_28.html
http://atlasnasional.bakosurtanal.go.id/Images/tanah/tanah%20(23).jpg
http://www.balikpapan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=99&Itemid=68&lang=in
Pool. 2011. Hujan Deras, Tebing Setinggi 10 Meter Longsor. Dalam www.detik.com edisi 1 November 2011.
Priyono, Dwi Kuswaji dan Priyono. 2008. Analisis Morfometri dan Morfostruktur Lereng Kejadian Longsor di Kecamatan Banjarmangu Kecamatan Banjarnegara. Dalam jurnal Forum Geografi, Vol. 22 No. 1 Juli 2008.
Sadisun, Imam A. 2005. Usaha Pemahaman terhadap Stabilitas Lereng dan Longsoran sebagai Langkah Awal dalam Mitigasi Bencana Longsor. Dalam Workshop Penanganan Bencana Gerakan Tanah. Bandung, 15-16 Desember 2005.
Vulcanological Survey of Indonesia. 2010. Pengenalan Gerakan Tanah. Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral

Tidak ada komentar:

Posting Komentar