PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Indonesia terletak pada pertemuan
tiga lempeng dunia yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng
Australia yang bergerak saling menumbuk. Akibat tumbukan antara lempeng itu
maka terbentuk daerah penunjaman memanjang di sebelah Barat Pulau Sumatera,
sebelah Selatan Pulau Jawa hingga ke Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara, sebelah
Utara Kepulauan Maluku, dan sebelah Utara Papua. Konsekuensi lain dari tumbukan
itu maka terbentuk palung samudera, lipatan, punggungan dan patahan di busur
kepulauan, sebaran gunung api, dan sebaran sumber gempa bumi. Gunung api yang
ada di Indonesia berjumlah 129. Angka itu merupakan 13% dari jumlah gunung api
aktif dunia. Dengan demikian Indonesia rawan terhadap bencana letusan gunung
api dan gempa bumi. Di beberapa pantai, dengan bentuk pantai sedang hingga
curam, jika terjadi gempa bumi dengan sumber berada di dasar laut atau samudera
dapat menimbulkan gelombang Tsunami.
Jenis tanah pelapukan yang sering
dijumpai di Indonesia adalah hasil letusan gunung api. Tanah ini memiliki
komposisi sebagian besar lempung dengan sedikit pasir dan bersifat subur. Tanah
pelapukan yang berada di atas batuan kedap air pada perbukitan/punggungan
dengan kemiringan sedang hingga terjal berpotensi mengakibatkan tanah longsor
pada musim hujan dengan curah hujan berkuantitas tinggi. Jika perbukitan
tersebut tidak ada tanaman keras berakar kuat dan dalam, maka kawasan tersebut
rawan bencana tanah longsor.
B. MAKSUD
DAN TUJUAN
Tujuan
penulis membuat makalah ini adalah :
1. Untuk
mengetahui gejala umum terjadinya tanah lonsor dan penyebab terjadinya bencana
alam tanah lonsor dan pencegahan terjadinya bencana alam tanah longsor.
2. Untuk
menambah wawasan dan pengetahuan tentang tanah longsor.
C. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang permasalahan di
atas maka kami merumuskan masalah yang perlu ditanggulangi sebagai berikut :
1)
Faktor apa
saja yang menyebabkan bencana tanah longsor ?
2) Bagaimana upaya
yang bisa dilakukan untuk menghindari terjadinya bencana tanah longsor ?
D. MANFAAT
1. Mengetahui penyebab terjadinya tanah longsor
2. Menentukan kontruksi di area karena perbedaaan kondisi tanah
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
TANAH LONGSOR
Tanah longsor atau dalam bahasa
Inggris disebut Landslide, adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa
batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke
bawah atau keluar lereng. Proses terjadinya tanah longsor dapat diterangkan
sebagai berikut: air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah.
Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang
gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak
mengikuti lereng dan keluar lereng.
B. DASAR
TEORI
1.
PENYEBAB TERJADINYA LONGSOR
• Hujan
Ancaman
tanah longsor biasanya dimulai pada bulan November karena meningkatnya
intensitas curah hujan. Musim kering yang panjang akan menyebabkan terjadinya
penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar. Hal itu mengakibatkan
munculnya pori-pori atau rongga tanah hingga terjadi retakan dan merekahnya
tanah permukaan. Ketika hujan, air akan menyusup ke bagian yang retak sehingga
tanah dengan cepat mengembang kembali. Pada awal musim hujan, intensitas hujan
yang tinggi biasanya sering terjadi, sehingga kandungan air pada tanah menjadi
jenuh dalam waktu singkat. Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan
longsor, karena melalui tanah yang merekah air akan masuk dan terakumulasi di
bagian dasar lereng, sehingga menimbulkan gerakan lateral. Bila ada pepohonan
di permukaannya, tanah longsor dapat dicegah karena air akan diserap oleh
tumbuhan. Akar tumbuhan juga akan berfungsi mengikat tanah.
• Lereng
terjal
Lereng
atau tebing yang terjal akan memperbesar gaya pendorong. Lereng yang terjal
terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air laut, dan angin.
Kebanyakan sudut lereng yang menyebabkan longsor.
• Tanah
yang kurang padat dan tebal
Jenis
tanah yang kurang padat adalah tanah lempung atau tanah liat dengan ketebalan
lebih dari 2,5 m dan sudut lereng lebih dari 220°. Tanah jenis ini memiliki
potensi untuk terjadinya tanah longsor terutama bila terjadi hujan. Selain itu
tanah ini sangat rentan terhadap pergerakan tanah karena menjadi lembek terkena
air dan pecah ketika hawa terlalu panas.
• Batuan
yang kurang kuat
Batuan
endapan gunung api dan batuan sedimen berukuran pasir dan campuran antara
kerikil, pasir, dan lempung umumnya kurang kuat. Batuan tersebut akan mudah menjadi
tanah bila mengalami proses pelapukan dan umumnya rentan terhadap tanah longsor
bila terdapat pada lereng yang terjal.
• Jenis
tata lahan
Tanah
longsor banyak terjadi di daerah tata lahan persawahan, perladangan, dan adanya
genangan air di lereng yang terjal. Pada lahan persawahan akarnya kurang kuat
untuk mengikat butir tanah dan membuat tanah menjadi lembek dan jenuh dengan
air sehingga mudah terjadi longsor. Sedangkan untuk daerah perladangan
penyebabnya adalah karena akar pohonnya tidak dapat menembus bidang longsoran
yang dalam dan umumnya terjadi di daerah longsoran lama.
• Getaran
Getaran
yang terjadi biasanya diakibatkan oleh gempabumi, ledakan, getaran mesin, dan
getaran lalulintas kendaraan. Akibat yang ditimbulkannya adalah tanah, badan jalan,
lantai, dan dinding rumah menjadi retak.
• Susut
muka air danau atau bendungan
Akibat
susutnya muka air yang cepat di danau maka gaya penahan lereng menjadi hilang,
dengan sudut kemiringan waduk 220° mudah
terjadi longsoran dan penurunan tanah yang biasanya diikuti oleh retakan.
• Adanya
beban tambahan
Adanya
beban tambahan seperti beban bangunan pada lereng, dan kendaraan akan
memperbesar gaya pendorong terjadinya longsor, terutama di sekitar tikungan
jalan pada daerah lembah. Akibatnya adalah sering terjadinya penurunan tanah
dan retakan yang arahnya ke arah lembah.
•
Pengikisan/erosi
Pengikisan
banyak dilakukan oleh air sungai ke arah tebing. Selain itu akibat penggundulan
hutan di sekitar tikungan sungai, tebing akan menjadi terjal.
• Adanya
material timbunan pada tebing
Untuk
mengembangkan dan memperluas lahan pemukiman umumnya dilakukan pemotongan
tebing
• Bekas
longsoran lama
Longsoran
lama umumnya terjadi selama dan setelah terjadi pengendapan material gunung api
pada lereng yang relatif terjal atau pada saat atau sesudah terjadi patahan
kulit bumi.
• Adanya
bidang diskontinuitas (bidang tidak sinambung)
Bidang-bidang
tersebut merupakan bidang lemah dan dapat berfungsi sebagai bidang luncuran
tanah longsor.
•
Penggundulan hutan
Tanah
longsor umumnya banyak terjadi di daerah yang relatif gundul dimana pengikatan
air tanah sangat kurang.
• Daerah
pembuangan sampah
Penggunaan
lapisan tanah yang rendah untuk pembuangan sampah dalam jumlah banyak dapat
mengakibatkan tanah longsor apalagi ditambah dengan guyuran hujan, seperti yang
terjadi di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Leuwigajah di Cimahi. Bencana ini
menyebabkan sekitar 120 orang lebih meninggal.
2.
JENIS TANAH LONGSOR
Ada 6 jenis tanah longsor, yakni: longsoran translasi, longsoran rotasi, pergerakan blok,runtuhan batu, rayapan tanah, dan aliran bahan rombakan. Jenis longsoran translasi dan rotasipaling banyak terjadi di Indonesia. Sedangkan longsoran yang paling banyak memakan korban jiwa manusia adalah aliran bahan rombakan.
Ada 6 jenis tanah longsor, yakni: longsoran translasi, longsoran rotasi, pergerakan blok,runtuhan batu, rayapan tanah, dan aliran bahan rombakan. Jenis longsoran translasi dan rotasipaling banyak terjadi di Indonesia. Sedangkan longsoran yang paling banyak memakan korban jiwa manusia adalah aliran bahan rombakan.
2.1.
Longsoran Translasi
Longsoran translasi adalah ber-geraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.
Longsoran translasi adalah ber-geraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.
|
Gambar .1. Gambar Longsoran Translasi
Sumber : http://mukegile08.wordpress.com/2011/06/15/tanah-longsor-definisi-jenis-dan-gejalanya/slide2-5/
|
2.2.
Longsoran Rotasi
Longsoran rotasi adalah bergerak-nya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung.
Longsoran rotasi adalah bergerak-nya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung.
|
Gambar .2. Gambar Longsoran Rotasi
Sumber : http://mukegile08.wordpress.com/2011/06/15/tanah-longsor-definisi-jenis-dan-gejalanya/slide2-5/
|
2.3. Pergerakan Blok
Pergerakan blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang gelincir berbentuk rata. Longsoran ini disebut juga longsoran translasi blok batu.
Pergerakan blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang gelincir berbentuk rata. Longsoran ini disebut juga longsoran translasi blok batu.
|
Gambar .3. Gambar pergerakan Blok
Sumber : http://mukegile08.wordpress.com/2011/06/15/tanah-longsor-definisi-jenis-dan-gejalanya/slide2-5/
|
2.4.
Runtuhan Batu
Runtuhan batu terjadi ketika sejum-lah besar batuan atau material lain bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas.Umumnya terjadi pada lereng yang terjal hingga meng-gantung terutama di daerah pantai. Batu-batu besar yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan yang parah.
Runtuhan batu terjadi ketika sejum-lah besar batuan atau material lain bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas.Umumnya terjadi pada lereng yang terjal hingga meng-gantung terutama di daerah pantai. Batu-batu besar yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan yang parah.
|
Gambar .4. Gambar pergerakan Blok
Sumber : http://mukegile08.wordpress.com/2011/06/15/tanah-longsor-definisi-jenis-dan-gejalanya/slide2-5/
|
2.5.
Rayapan Tanah
Rayapan Tanah adalah jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis tanahnya berupa butiran kasar dan halus. Jenistanah longsor ini hampir tidak dapat dikenali. Setelah waktu yang cukup lama longsor jenis rayapan ini bisa menyebabkan tiang-tiang telepon, pohon, atau rumah miring ke bawah.
Rayapan Tanah adalah jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis tanahnya berupa butiran kasar dan halus. Jenistanah longsor ini hampir tidak dapat dikenali. Setelah waktu yang cukup lama longsor jenis rayapan ini bisa menyebabkan tiang-tiang telepon, pohon, atau rumah miring ke bawah.
|
Gambar .5. Gambar Rayapan tanah
Sumber : http://mukegile08.wordpress.com/2011/06/15/tanah-longsor-definisi-jenis-dan-gejalanya/slide2-5/
|
2.6.
Aliran Bahan Rombakan
Jenis tanah longsor ini terjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh air. Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng, volume dan tekanan air, dan jenis materialnya. Gerakannya terjadi di sepanjang lembah dan mampu mencapai ratusan meter jauhnya. Di beberapa tempat bisa sampai ribuan meter seperti di daerah aliran sungai disekitar gunung api. Aliran tanah ini dapat menelan korban cukup banyak.
Jenis tanah longsor ini terjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh air. Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng, volume dan tekanan air, dan jenis materialnya. Gerakannya terjadi di sepanjang lembah dan mampu mencapai ratusan meter jauhnya. Di beberapa tempat bisa sampai ribuan meter seperti di daerah aliran sungai disekitar gunung api. Aliran tanah ini dapat menelan korban cukup banyak.
|
Gambar .6. Gambar Aliran bahan Rombakan
Sumber : http://mukegile08.wordpress.com/2011/06/15/tanah-longsor-definisi-jenis-dan-gejalanya/slide2-5/
|
3. GEJALA UMUM TANAH
LONGSOR
• Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing.
• Biasanya terjadi setelah hujan.
• Munculnya mata air baru secara tiba-tiba.
• Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan.
• Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing.
• Biasanya terjadi setelah hujan.
• Munculnya mata air baru secara tiba-tiba.
• Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan.
4. DAMPAK BENCANA LONGSOR BAGI
KEHIDUPAN DAN LINGKUNGAN
Banyak dampak yang di timbulkan
akibat terjadinya tanah longsor baik dampak terhadap kehidupan manusia,Hewan
dan tumbuhan maupun dampaknya terhadapa keseimbangan lingkungan.
a.
Dampak terhadap kehidupan
Terjadinya bencana tanah longsor
memiliki dampak yang sangat besar terhadap kehidupan, khususnya manusia.bila
tanah longsor itu terjadi pada wilayah yang memiliki kepadatan penduduk yang
tinggi,maka korban jiwa yang di timbulkan akan sangat besar,tertutama bencana
tanah longsor yang terjadi secara tiba-tiba tanpa di awali tanda-tanda akan
terjadinya tanah longsor.
Adapun dampak yang di timbulkan
dengan terjadinya tanah longsor terhadap kehidupan adalah sebagai berikut :
1. Bencana
longsor banyak menimbulkan korban jiwa.
2. Terjadinya
kerusakan Infrastruktur public seperti jalan,jembatan dan sebagainya.
3. Kerusakan
bangunan-bangunan seperti gedung perkantoran dan perumahan penduduk serta
sarana peribadatan.
4. Menghambat
proses aktivitas manusia dan merugikan baik masyarakat yang terdapat disekitar
bencana maupun pemerintah.
b.
Dampak terhadap Lingkungan
Adapun dampak yang ditimbulkan
terhadap lingkungan akibat terjadinya tanah longsor adalah sebagai berikut :
1. Terjadinya
kerusakan Lahan
2. Hilangnya
Vegetasi penutup lahan
3. Terganggunya
keseimbangan ekosistem
4. Lahan
menjadi kritis sehingga cadangan air bawah tanah menipis.
5. Terjadinya
tanah longsor dapat penutup lahan yang lain seperti sawah,kebun dan lahan
produktif lainnya.
C. FENOMENA DI BALIKPAPAN
Secara morfologis Kota
Balikpapan terdiri dari kawasan perbukitan yang bergelombang ±85% dengan jenis
tanah podsolik merah kuning. Sifat jenis tanah ini berlapisan topsoil tipis,
struktur tanahnya mudah tererosi.
Sedangkan ±15%
merupakan daerah dataran yang terletak di sepanjang pantai timur dan selatan
wilayah Kota Balikpapan
Dari sisi topografis
sebagian besar wilayah Kota Balikpapan merupakan kawasan perbukitan yang
mempunyai kelerengan antara 15-40%, seluas 21.305,57 Ha atau 42,33% dari luas
wilayah keseluruhan.
berikut ini kami
lampirkan foto longsor yang terjadi di kota Balikpapan :
|
Gambar .7. Longsoran yang terjadi di
Rt. 33 Prapatan Dalam tanggal 28 mei 2014
Sumber :
http://www.balikpapanpos.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=126558
|
|
Gambar .8. Longsoran yang terjadi di
Gunung pasir tanggal 01 September 2007
Sumber : http://kumpulanku.files.wordpress.com/2007/09/dsc00001.jpg
|
D. SOLUSI
DAN PEMECAHAH
ada
beberapa upaya untuk melindungi permukaan tanah dari erosi air dan angin. Upaya
tersebut bertujuan untuk menjaga agar
tanah tidak terdispersi dan mengatur kekuatan gerak dan jumlah aliran permukaan
agar tidak terjadi pengangkutan tanah.
Berdasarkan
upaya konservasi tersebut, ada tiga cara pendekatan dalam konservasi tanah
yaitu:
- Menutup tanah dengan tumbuhan dan tanaman atau sisa-sisa tumbuhan agar terlindungi dari daya perusak butir-butir hujan yang jatuh.
- Memperbaiki dan menjaga keadaan tanah agar resisten terhadap daya penghancuran agregat oleh tumbukan butir-butir hujan dan pengangkutan oleh aliran permukaan dan lebih besar dayanya untuk menyerap air di permukaan tanah.
- Mengatur aliran permukaan agar mengalir dengan kecepatan yang tidak merusak dan memperbesar jumlah air yang terinfiltrasi ke dalam tanah.
Dalam upaya dalam mencegah dan memperbaiki
kerusakan lahan dari longsor, terdapat beberapa metoda yang dikenal dengan
metoda konservasi tanah dan air yang digolongkan dalam tiga golongan utama
yaitu;
1. Metoda
Vegetatif
Metoda vegetatif adalah penggunaan tanaman
atau bagian-bagian tanaman atau sisa-sisanya untuk mengurangi daya tumbuk butir
hujan yang jatuh, mengurangi jumlah dan kecepatan aliran permukaan yang pada
akhirnya mengurangi erosi tanah.
Metoda vegetatif dalam konservasi tanah meliputi:
a. Penanaman dalam strip
b. Pengunaan sisa tanaman/tumbuhan
c. Geotekstil
d. Strip tumbuhan penyangga
e. Tanaman penutup tanah
f. Pergilitan
tanaman
g. Agroforestry
2. Metoda
Mekanik
Metoda mekanik adalah semua perlakuan fisik
mekanis yang diberikan terhadap tanah dan pembuatan bangunan untuk mengurangi
aliran permukaan dan erosi dan meningkatkan kemampuan penggunaan tanah. Fungsi
metoda mekanik ini yaitu memperlambat aliran permukaan, menampung dan
menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak merusak, memperbaiki
atau memperbesar infiltrasi air kedalam tanah dan memperbaiki aerasi tanah dan
penyediaan air tanaman.
Metoda mekanik terdiri dari:
a. Pengolahan tanah (tillage)
b. Pengolahan
tanah menurut kontur
c. Guludan
dan guludan bersaluran menurut kontur
d. Parit
pengelak
e. Teras
f. Dam
penghambat
g. Perbaikan
drainase
h. Irigasi
3. Metoda Kimia
Metoda kimia dengan menggunakan preparate kimia baik
berupa senyawa sintetik maupun berupa bahan alami yang telah diolah dalam
jumlah yang relatif sedikit untuk meningkatkan stabilitas agregat tanah dan
mencegah erosi.
Beberapa preparate kimia yang dikembangkan sebagai
berikut (de Boot, Gabriels dan Van develde, 1973);
a. Polyanion
b. Polycation
c. Dipole Polymer
d. Emulsi bitume
PENCEGAHAN TERJADINYA BENCANA TANAH LONGSOR
·
Jangan membuat sawah dan kolam pada lereng bagian atas di dekat pemukiman
·
Buatlah terasering (sengkedan) pada
lereng yang terjal bila membangun permukiman.
·
Segera menutup retakan tanah dan
dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam tanah melalui retakan.
·
Jangan melakukan penggalian di bawah
lereng terjal.
·
Jangan menebang pohon di lereng.
·
Jangan membangun rumah di bawah tebing.
·
Jangan mendirikan permukiman di tepi lereng
yang terjal
·
Pembangunan rumah yang benar di lereng
bukit pondasinya agar mencapai batuan dasar.
·
Jangan mendirikan bangunan di bawah
tebing yang terjal
·
Pembangunan rumah yang salah di lereng
bukit
·
Jangan memotong tebing jalan menjadi
tegak
·
Jangan mendirikan rumah di tepi sungai
yang rawan erosi
PEMECAHAN MASALAH APABILA SUDAH TERJADI BENCANA
1. Tanggap Darurat
Yang harus dilakukan dalam tahap tanggap
darurat adalah penyelamatan dan pertolongan korban secepatnya supaya korban
tidak bertambah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:
*
Kondisi medan
* Kondisi bencana
* Peralatan
* Informasi bencana
2. Rehabilitasi
Upaya pemulihan korban dan prasarananya,
meliputi kondisi sosial, ekonomi, dan sarana transportasi. Selain itu dikaji
juga perkembangan tanah longsor dan teknik pengendaliannya supaya tanah longsor
tidak berkembang dan penentuan relokasi korban tanah longsor bila tanah longsor
sulit dikendalikan.
3. Rekonstruksi
Penguatan bangunan-bangunan infrastruktur di
daerah rawan longsor tidak menjadi pertimbangan utama untuk mitigasi kerusakan
yang disebabkan oleh tanah longsor, karena kerentanan untuk bangunan-bangunan
yang dibangun pada jalur tanah longsor hampir 100%.
|
|
|
Gambar 9. Rekonstruksi Longsor
|
Ada beberapa tindakan
perlindungan dan perbaikan yang bisa ditambah untuk tempat-tempat hunian,
antara lain:
* Perbaikan drainase tanah (menambah
materi-materi yang bisa menyerap).
* Modifikasi lereng (pengurangan sudut lereng
sebelum pem-bangunan).
* Vegetasi kembali lereng-lereng.
* Beton-beton yang menahan tembok mungkin bisa
menstabilkan lokasi hunian
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dari makalah yang kami buat yang berjudul “Longsor” dapat
menarik kesimpulan, diantaranya: Tanah longsor adalah perpindahan material
pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran
tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng.
Faktor penyebab terjadinya gerakan pada
lereng ( tanah longsor) juga tergantung pada kondisi batuan dan tanah penyusun
lereng, struktur geologi, curah hujan, vegetasi penutup dan penggunaan lahan
pada lereng tersebut, namun secara garis besar dapat dibedakan sebagai faktor
alami dan manusia.
Terjadinya bencana alam tanah longsor ini dapat diminimalkan
dengan memberdayakan masyarakat untuk mengenali tipologi lereng yang rawan
longsor, gejala awal longsor, serta upaya antisipasi dini yang harus dilakukan,
sehingga pengembangan dan penyempurnaan manajemen mitigasi gerakan tanah baik
dalam skala nasional, regional maupun lokal secara berkelanjutan dengan
memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan menggalang kebersamaan
segenap lapisan masyarakat.
.
B.
SARAN
ada beberapa
tindakan perlindungan dan perbaikan yang bisa ditambah untuk tempat-tempat
hunian, antara lain:
Perbaikan drainase tanah (menambah
materi-materi yang bisa menyerap).
Modifikasi lereng (pengurangan sudut lereng
sebelum pembangunan).
Vegetasi kembali lereng-lereng.
Beton-beton yang menahan tembok mungkin bisa
menstabilkan lokasi hunian.
Selain itu ada hal-hal yang harus
diketahui untuk menghindari bencana tanah longsor adalah :
Jangan
mencetak sawah dan membuat kolam pada lereng bagian atas di dekat pemukiman
Buatlah
terasering (sengkedan) [ada lereng yang terjal bila membangun permukiman
Segera menutup retakan tanah dan dipadatkan
agar air tidak masuk ke dalam tanah melalui retakan.
Jangan melakukan penggalian di bawah lereng
terjal
Dan sebagainya Diharapkan untuk meningkatkan
kualitas mengajar dan membuat suatu materi yang disampaikan agar lebih menarik.
Sekian
dan Terima kasih J
DAFTAR PUSTAKA
Bachri, Moch. 2006. Geologi Lingkungan. Malang : CV.
Aksara.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. 2005.
Pengenalan Gerakan Tanah. Jakarta : Mancamedia.
http://ranupatjeh7.blogspot.com/2013/03/makalah-tanah-longsor.html
http://gempol-ngompol.blogspot.com/2012/05/pengertian-jenis-dan-pencegahan-tanah_28.html
http://atlasnasional.bakosurtanal.go.id/Images/tanah/tanah%20(23).jpg
http://www.balikpapan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=99&Itemid=68&lang=in
Pool. 2011. Hujan Deras, Tebing Setinggi 10 Meter
Longsor. Dalam www.detik.com edisi 1
November 2011.
Priyono, Dwi Kuswaji dan Priyono. 2008. Analisis
Morfometri dan Morfostruktur Lereng Kejadian Longsor di Kecamatan Banjarmangu
Kecamatan Banjarnegara. Dalam jurnal Forum Geografi, Vol. 22 No. 1 Juli 2008.
Sadisun, Imam A. 2005. Usaha Pemahaman terhadap
Stabilitas Lereng dan Longsoran sebagai Langkah Awal dalam Mitigasi Bencana
Longsor. Dalam Workshop Penanganan Bencana Gerakan Tanah. Bandung, 15-16
Desember 2005.
Vulcanological Survey of Indonesia. 2010. Pengenalan
Gerakan Tanah. Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral